News

Turki Siap Jadi Mediator Antara AS dan Iran

Ankara (KABARIN) - Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyatakan kesiapan Ankara untuk menjadi mediator antara Amerika Serikat dan Iran demi meredakan ketegangan yang kian meningkat di kawasan. Pernyataan itu disampaikan Erdogan langsung kepada Presiden Iran Masoud Pezeshkian dalam percakapan telepon, Jumat, sebagaimana dikutip dari pernyataan resmi kepresidenan Turki.

"Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan melakukan percakapan telepon dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian," demikian pernyataan kantor kepresidenan Turki.

Dalam pembicaraan tersebut, kedua pemimpin membahas hubungan bilateral Turki–Iran serta situasi keamanan regional yang semakin memanas. Erdogan menegaskan peran yang siap diambil Turki di tengah ketegangan antara Washington dan Tehran.

"Selama percakapan tersebut, Presiden Erdogan menekankan bahwa Turki siap menjadi mediator antara Iran dan Amerika Serikat untuk mengurangi ketegangan dan menyelesaikan masalah," lanjut pernyataan itu.

Erdogan juga mengungkapkan rencananya untuk menerima kunjungan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi pada hari yang sama. Pertemuan ini dipandang sebagai bagian dari upaya diplomasi Turki untuk menjaga stabilitas kawasan.

Sikap Turki sejalan dengan langkah sejumlah sekutu AS di Timur Tengah. Sebelumnya, negara-negara Teluk seperti Qatar, Arab Saudi, dan Oman dilaporkan telah membujuk Presiden AS Donald Trump agar menghindari opsi serangan terhadap Iran. Mengutip laporan News Nation awal bulan ini, negara-negara tersebut meminta Trump untuk “memberi Iran kesempatan.”

Situasi Iran sendiri sedang berada dalam tekanan. Pada akhir Desember 2025, protes besar pecah di sejumlah kota akibat kekhawatiran publik terhadap melonjaknya inflasi yang dipicu melemahnya nilai tukar rial Iran. Di beberapa wilayah, aksi protes berubah menjadi bentrokan dengan aparat keamanan, dengan laporan korban dari kedua belah pihak.

Di tengah kondisi tersebut, ketegangan dengan AS ikut meningkat. Pada akhir Desember, Presiden Trump menyatakan akan mendukung serangan baru terhadap Iran jika Teheran mencoba melanjutkan pengembangan program rudal dan nuklirnya. Bahkan, saat gelombang protes berlangsung, Trump juga mengancam Iran dengan serangan besar apabila ada demonstran yang terbunuh.

Di tengah dinamika panas ini, Turki mencoba mengambil posisi sebagai penengah, dengan harapan jalur diplomasi bisa mencegah konflik terbuka dan menjaga kawasan tetap stabil.


Penerjemah: Katriana
Editor: Raihan Fadilah
Copyright © KABARIN 2026
TAG: